PMII KOMUNIS
Mundur Satu Langkah Adalah suatu bentuk penghianatan
Kamis, 26 November 2015
Guruku Pahlawanku…
TANTANGAN PARA GURU KEDEPANYA
Oleh: Amran Umar
Ketua PMII Komisariat Unisma
Hari ini, tanggal 25 November 2015 yang bertepatan dengan peringatan Hari Guru Nasional ke-70. Agenda sakral ini selalu diperingati setiap tahun dan telah ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994. Guru merupakan profesi yang sangat mulia dalam kehidupan ini, ya bagaimana tidak, seorang Presiden, serta penyelenggara Negara lainya, pengusaha, insinyur,dokter, politisi dan lain-lain, semua itu akarnya adalah guru. Sehingga begitu besar perjuangan para guru-guru kita dalam mempengaruhi roda kehidupan manusia, mampu membentuk karakter bangsa yang lebih baik lagi. Kita bisa membaca, menulis, berhitung, semua itu adalah berkat jasa para guru kita yang dengan ikhlas mengajarkan kita arti dari kehidupan ini, dimana kalau kita tidak bisa membaca, menulis dan berhitung maka sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa bersiang dengan Negara manapun dan akan selamanya juga kita akan terus dibodohi oleh orang lain.
Guru merupakan tonggak sejarah cikal bakal lahirnya generasi muda emas Indonesia kedepan, guru adalah wasilah yang dapat mengantarkan bangsa ini meraih harkat serta martabatnya sebagai bangsa yang besar dan mampu berbicara banyak di penjuru dunia. Dengan jasa para guru, dengan sikap dan sifat lemah lembutnya, diharapkan nantinya akan lahir pemimpin-pemimpin bangsa yang berkarakter serta tangguh, dan mampu membawa negeri tercinta ini pada masa kejayaanya dimana mampu bersaing dengan Negara-negara maju lainya. Negeri kita ini merupakan Negara dengan penduduk terbesar ke 4 di dunia, maka sudah saatnya kualitas kita harus ditunjukan kepada dunia, dengan mencerdaskan anak bangsa kita, memberikan perhatian yang lebih kepada para pemuda karena merekalah yang membawa Indonesia ini kedepanya menjadi bangsa yang besar, tentu caranya melalui apa?, ya tidak hanya menuntut para guru-guru untuk bekerja ekstra keras, tapi kesejahteraan mereka juga harus diperhatikan, intinya sama-sama mendapatkan manfaat bagi guru dan murid-muridnya.
Sejalan dengan tantangan kehidupan global diera kini, peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin besar serta kompleks, sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya, dimana guru harus inovatif, kreatif dan memiliki ide-ide cemerlang yang membangun agar para murid-muridnya tidak jenuh dan malas-malasan dalam menerima materi. Semoga diusianya yang ke 70, guru mampu memberikan persembahan terbaik kepada bangsa ini, tantangan guru kedepanya adalah bagaimana membentuk karakter dan akhlak siswa saat ini yang sudah terbawa arus globalisasi yang cenderung modernitas dimana guru harus mampu mengkolaborasikan modernitas itu tadi dengan kebudayaan ketimuran Indonesia, artinya guru harus mampu mengambil sisi-sisi baik dari globalisasi itu serta tidak menghilangkan budaya-budaya indonesia yang santun serta mampu menyelesaikan permasalahan siswa yang kompleks kedepanya.
“Setiap keberhasilan yang anda raih, bermula dari jutaan tetes keringat dari guru-guru anda dalam memberikan anda pelajaran terbaik. Dan mengupayakan agar anda memahami pelajaran tadi”.
SELAMAT HARI GURU NASIONAL.
Rabu, 25 November 2015
Mengatasi Krisis “Kepemimpinan” Pemuda
Oleh : Heri Kiswanto *)
Pemuda merupakan ujung tombak bagi perubahan bangsa. Artinya gagasan dan ide-idenya dinantikan dimasa sulit dan krisis kepercayaan terhadap pemimpin-pemimpin sebelumnya. Bahkan peran dan fungsinya diharapkan mampu mengatasi persoalan dan ketidakstabilan ekonomi dalam negeri dewasa ini.
Namun yang kita tahu, pemuda saat ini lebih gemar dan sibuk dengan ponsel atau handphone canggih yang menyediakan konten serta fitur menarik didalamnya. Tentu, hal tersebut berpengaruh terhadap kepedulian di lingkungan sosial.
Contoh sederhananya lupa makan, beribadah hingga jarang berkomunikasi dengan orang tua dan orang terdekatnya di rumah.
Selebihnya, malas pergi ke sekolah dan kampus, cukup akan dirasakan dimasa mendatang akibat krisis kepercayaan dan kemandirian dari diri pemuda.
Tanpa mengesampingkan kemajuan dan perkembangan zaman, ada beberapa hal yang perlu ditanamkan demi menumbuhkan rasa nasionalisme pemuda, agar menyala kembali.
Pertama, mengembalikan semangat dan motivasi melalui pendidikan di lingkup keluarga serta lingkungan pendidikan formal(kuliah).
Kedua, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) tanpa mengesampingkan kearifan dan budaya lokal.
Ketiga, terjun ke masyarakat secara langsung dengan mensosialisasikan kegunaan internet sebagai media informasi dan referensi keilmuan.
Keempat, hafal lagu-lagu wajib, pancasila, peringatan hari nasional serta kerukunan umat beragama, sejarah NKRI, nama-nama pahlawan nasional, kebinekaan, UUD' 45, nama-nama pejabat negara, dan hal yang berkaitan dengan prinsip-prinsip berbangsa dan bernegara.
Kelima, meningkatkan peran pemuda untuk ikut serta dalam setiap kegiatan sosial di masyarakat, baik di perkotaan maupun desa dan pinggiran.
Sebagai bangsa yang besar hal-hal tersebut diharapkan mampu menjadi dasar mengatasi krisis kepemimpinan pemuda yang mulai tergerus oleh kemajuan zaman.
Bangun tersentak dari bumiku subur ...
*) Ketua Rayon PMII Rona Gallusia Koms. Unisma (Periode 2011-2012)
Langganan:
Postingan (Atom)

